Kamis, 05 Juli 2012

Malu dalam Perspektif Islam


A.    Pendahuluan
Hampir setiap harinya kita menemukan kasus-kasus kriminal yang ada diberbagai media massa. Mulai dari kriminal yang ringan (dari sudut pandang yang dirugikan), semisal kasus mencuri permen sampai pada kasus kriminal yang merugikan banyak orang, seperti korupsi.
Korupsi saat ini sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia. Hari ini ada koruptor yang tertangkap, tapi penangkapan segelintir koruptor ini tak sebanding dengan semakin maraknya oknum-oknum yang korupsi. Istilah koruptor di Indonesia ibarat “Mati satu tumbuh seribu”. Pertanyaannya sekarang, “ada apa dengan Indonesia ini? Kenapa koruptor kini menjadi hal yang biasa-biasa saja, bahkan dengan adanya media, kasus-kasus korupsi mudah terekspos ke halayak luas. Tidak hanya orang dewasa yang dapat menikmati – ibarat drama – episode-episode korupsi di Negeri ini, namun juga dapat dinikmati anak-anak. Jika hal ini berlangsung seara terus menerus, maka korupsi akan menjadi hal yang biasa-biasa saja yang boleh dilakukan. Apalagi sanksi para koruptor sangat jauh untukbisa dikatakan membuat jera. Dan lagi-lagi, sanksi yang tak sepadan dengan kerugian yang ditimbulkan itu dikonsumsi bebas oleh halayak umum.
Para koruptor memang seakan-akan telah kehilangan rasa malu, baik itu malu kepada dirinya sendiri, kepada keluarga, kepada tetangga, dan yang pasti mereka telah kehilangan malu kepada Allah Swt. dan Rasulullah Saw. Saat ini memang sulit sekali kita bertemu dengan pemimpin-pemimpin yang berkharisma dengan jubah malu yang  masih melekat dalam diri mereka.
Berangkat dari fenomena pudarnya rasa malu ini, kami mencoba membuka-buka kitab-kitab hadist serta sekilas membahas tentang malu dalam konteks Islam.

B.     Pengertian Malu
Sudah menjadi kebiasaan, dalam tiap-tiap pembahasan selalu diawali dengan memaparkan terlebih dahulu tentang arti dari tema yang akan dibahas. Seperti halnya saat ini, berkaitan dengan malu – yang menjadi tema utama – para ulama berpendapat, seperti yang dikutip oleh al-Imam Abu Zakaria bahwasanya hakikat malu adalah budi pekerti yang mengajak agar meninggalkan kejelekan dan mencegah dari mengurangi hak orang lain.[1]
Malu itu adalah suatu sifat di dalam jiwa atau satu sifat yang berdiri di dalam jiwa yang mencegah dari berbuat jelek.[2] Al-Junaid rahimahullah berkata bahwa hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.[3]
Selain itu, malu dapat dihubungkan dengan kebanyakan akhlak seperti menjaga kehormatan, lebih mementingkan kepentingan orang lain, sabar, lemah lembut, pemaaf, baik kepada keluarga, lain-lain.[4]
وروَيْنَا عَنْ أبِي الْقَاسِمِ الْجُنَيْدِ رحمه اللهُ قال : الْحَيَاءُ رُؤْيَةُ الْأَلَاءِ , أَيِ النِّعَمِ وَرُؤْيَةُ التَّقْصِيْرِ فَيَتَلَوَّدُ بَيْنَهُمَا حَالَةٌ تُسَمَّى حَيَاءً . والله أعلم .
Artinya: “Dalam riwayat Abul Qasim Al-Junaid ra., ia berkata: “Malu adalah memandang kebaikan dan melihat kekurangan diri sendiri. Dari kedua pandangan itu, lahirlah perasaan yang dinamakan malu.”[5]

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa malu adalah kecenderungan sikap untuk meninggalkan hal-hal yang buruk serta mencegah dari menyia-nyiakan hak orang lain.

C.    Malu sebagai Fitrah Manusia
Malu merupakan salah satu fitrah atau tabiat manusia. Allah telah mengabadikan kisah tentang malunya nabi Adam As. dan Hawa saat aurat mereka terbuka sesaat setelah mereka berdua memakan buah khuldi dalam, yang artinya:
“Maka keduanya memakan buah dari pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.”[6]
Secara tersurat memang tidak ada penjelasan tentang malu adalah sifat dasar manusia. Tapi, kita bisa menemukan tersirat bahwa nabi Adam as. dan Hawa seketika menutupi aurat mereka dengan dedaunan setelah aurat mereka terbuka. Hal tersebut menegaskan bahwa malu memang sifat dasar yang diberikan Allah Swt. kepada manusia. Jika malu bukan sifat dasar manusia, tentunya Nabi Adam as. dan Hawa tidak akan menutup aurat mereka dengan dedaunan. Terdapat sabda Nabi Saw. yang menegaskan tentang malu adalah sebagai sifat dasar manusia,
“Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang keduanya dicintai oleh Allah ‘azza wajalla.” Aku bertanya, ‘Sifat apakah itu?’ Beliau menjawab, “Al-Hilmu (santun) dan rasa malu.” Saya bertanya lagi, ‘Apakah kedua sifat itu telah ada padaku sejak lama atau baru melekat?’ Beliau menjawab: “Sejak lama.” Saya berkata, ‘Segala puji Allah Swt. yang telah memberiku dua sifat yang dicintai-Nya.”

Jika kita perhatikan dalam keseharian, antara santun dan malu memanglah saling terkait. Orang yang santun biasanya yang memiliki malu, dan orang yang punya malu dapat kita lihat betapa santunnya ia.

D.    Macam-Macam Malu
Dalam beberapa literatur, telah dijelaskan bahwa sifat malu memiliki dua jenis atau macam, yaitu:[7]
  1. Malu yang merupakan tabiat manusia
Maksudnya ialah akhlak paling mulia yang diberikan Allah Swt. kepada hamba.
  1. Malu yang timbul karena adanya usaha.
Malu ini didapatkan dengan ma’rifatullah (mengenal Allah ‘Azza wa jalla). Adapun cara untuk dapat mengenal Allah Swt. adalah dengan mengenal keagungan-Nya, kedekatan-Nya dengan hamba-Nya, perhatian-Nya terhadap mereka, pengetahuan-Nya terhadap mata yang berkhianat dan apa saja yang dirahasiakan oleh hati.
E.     Keutamaan Malu
  1. Malu adalah warisan para Nabi terdahulu
Karena malu adalah sebagai fitrah manusia. Maka, secara tidak langsung, dapat kita temukan bahwa diantara nabi-nabi yang ada, semuanya menyepakati tentang tema malu. Maka wajar jika Nabi-nabi terdahulu menyerukan tentang malu, dan malu ini dihubungkan dengan perbuatan seseorang. Seseorang yang berlaku sesuka hati tanpa ada batas-batas antara baik dan buruk, ia digolongkan tidak mempunyai malu. Dalam sebuah riwayat disebutkan,
أَخبَرَنَا أبُوْ خَلِيفَةَ , حدَّثَنَا القَعْنَبِيُّ , عَنْ شُعْبَةَ عَنْ مَنْصُورٍ , عَنْ رَبْعِيْ , عَنْ أبِيْ مَسْعُودٍ قال : قال رسولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلَّم :  )إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوّةِ الْأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ (.
Artinya: “Abu Khalifah mengabarkan kepada kami, al-Qo’nabiy menceritakan kepada kami, dari Syu’bah dari Manshur, dari Rab’i, dari Abi Mas’ud, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: (Sesungguhnya diantara hal yang diketahui oleh umat manusia dari perkataan para Nabi terdahulu adalah ucapan, ‘Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu’).”[8]

Hadist serupa juga terdapat dalam Arba’in Nawawi, yaitu kumpulan 40 hadist-hadist pilihan yang disusun oleh Imam Nawawi.[9] Dari hadist di atas juga dapat kita temukan, bahwa perintah untuk malu lebih bersifat opsional. Jika seseorang lebih memilih tidak mempunyai malu, maka ia bisa berbuat sesuka hatinya tanpa memikirkan apakah itu baik atau tidak. Tanpa memikirkan apakah itu merampas hak-hak orang lain atau tidak, semuanya tidak lagi dihiraukan. Akan tetapi, jika ia lebih memilih untuk jadi orang yang punya malu, ia tak akan berlaku sewenang-wenang, karena ia masih berpedoman pada baik-buruk, merampas atau tidak hak-hak orang lain.
Bisri Mustofa dalam menterjemahkan kitab Arba’in Nawawi pada pembahasan hadist di atas memberikan penjelasan sebagai berikut:
“Menuso iku semongso-mongso pekertine durung bejat, jiwane isih durung nahi, dewene mesti keroso malu ngelakoni perkoro kang ora perayugo. Dene ono wong nduwe tindak kang ora perayugo, ing kono wis ora keroso malu, iku mertandani yen jiwane wis nahi, pekertine wis rusak. Dadi ojo keliru tompo! Ojo nuli tegese: “Senajan lelakon mahu lelakun doso, asal sing ngelakoni wis ora keroso malu, iyo banjur keno iku ojo. Ora mengkono”!.[10] (Manusia itu terkadang budi pekertinya belum bejat, belum buruk, ia pasti merasa malu berbuat sesuatu yang tidak baik. Sementara itu, ada yang berbuat tindakan yang tidak baik, di sana ia tidak merasa malu, itu menandakan jika jiwanya sudah buruk, dan budi pekertinya telah rusak. Jadi, jangan salah menerima (hadist tersebut)! jangan lantas memaknainya: Walaupun perbuatan tadi (yang dilakukan) adalah perbuatan dosa, asalkan yang melakukan sudah tidak punya rasa malu, itu berarti boleh melakukannya (dosa). Bukan begitu!

Jadi jelas bahwa bagaimanpun juga perbuatan dosa tetaplah perbuatan dosa. Orang yang tidak punya malu, bukan berarti ia bisa seenak hatinya melakukan dosa. Karena malu itu sendiri adalah sikap mencegah dari perbuatan dosa, bukan sikap yang memisahkan antara kebolehan berbuat dosa atau tidak. Terkait dengan sabda Nabi Saw. “Berbuatlah sesukaku”. Terdapat bebrapa penafsiran, diantaranya:[11]
a.       Perintah tersebut mengandung arti peringatan dan ancaman, artinyajika seseorang tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu. Karena sesungguhnya segala perbuatan yang diperbuat, kelak akan mendapatkan balasan yang setimpal baik itu di duniaatau akhirat.
b.      Perintah tersebut mengandung arti penjelasan. Maksudnya adalah malu itu termasuk yang menentukan apakah sesorang itu berberperilaku baik atau buruk. Orang yang memiliki malu sudah tentu tidak akan melakukan perbuatan yang buruk. Sebaliknya, seseorang yang dalam hatinya tidak ada lagi perasaan malu akan bertindak sewenang-wenang, tanpa ada yang mengendalikan.
c.       Perintah tersebut mengandung arti pembolehan. Maksudnya, jika engkau melakukan sesuatu, maka lihatlah, jika perbuatan itunmerupakan sesuatu yang menjadikan engkau tidak merasa malu kepada Allah ‘azza wajalla dan manusia, maka lakukanlah, jika tidak maka tinggalkanlah.
Diantara ketiga penafsiran di atas, adalah penafsiran pertama yang – bisa dikatakan – benar. Wallahu A’lam.
  1. Malu senantiasa beriringan dengan iman.
Rasulullah pernah bersabda:
الْحَيَاءُ وَالْإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِيْعًا . فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الْأخَرُ . ( رواه أبو نعيم عن ابن عمر ) .
Artinya: “Malu dan Iman keduanya selalu berbarengan, apabila salah satu diantaranya lenyap, maka yang lainnya pun akan lenyap pula.” (HR. Abu Na’im melalui Ibnu ‘Umar ra.).[12]
           
Hadist di atas menunjukkan bahwa malu memiliki hubungan yang erat dengan keimanan seorang Muslim. Keduanya ibarat koin yang memiliki dua sisi, tidak akan mungkin kita dapat memisahkan dua sisi tersebut menjadi dua. Seorang muslim yang masih suka melakukan perbuatan yang buruk – dan bahkan bangga melakukannya – serta merampas hak-hak orang lain, maka ia belum sepenuhnya dapat dikatakan seorang mukmin. Dalam riwayat lain juga disebutkan:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي اللهُ عنهما : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلّى اللهُ عليه وسلَّم مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِى الْحَيَاءِ , فقال رسولُ اللهِ صلّى اللهُ عليه وسلّم : دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الْإِيْمَانِ . (متفق عليه)
Artinya: “Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: Rasulullah saw. melewati seorang Anshor yang sedang memberi nasihat kepada saudaranya karena pemalu, lalu beliau saw. bersabda: “Biarkan ia pemalu! Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).[13]

Rasul Saw. membiarkan seseorang yang memiliki rasa malu. Malu yang – bisa dikatakan – suatu anjuran ini tentunya malu yang memang malu terhadap melakukan perbuatan buruk, bukan malu untuk melakukan perbuatan yang baik.
  1. Malu adalah cabang keimanan
Rasulullah Saw. bersabda:
عن أَبِي هريرة رضي الله عنه : أَنَّ رسول اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال : الْإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ , أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً , فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ , وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ , والْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيْمَانِ . ( متفق عليه ) .
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah bersabda: “Cabang iman ada enam puluh lebih, atau tujuh puluh ebih, yang paling utama adalah ucapan: LAA ILAAHA ILLALLAAH (Tidak ada Tuhan selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sedangkan malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).[14]

Dalam riwayat lain, nabi saw. Juga pernah bersabda:
الحياءُ والعِيْ شُعْبَتَانِ مِنَ الْإِيْمَانِ , وَالْبِذَاءُ والييَانُ شُعْبَتَانِ مِنَ النِّفَاقِ
Artinya: “Malu dan tidak banyak bicara adalah dua cabang dari iman. Dan omongan cabul serta fulgar (dalam berbicara) itu dua cabang dari kemunafikan. (Dari Abu Umamah).[15]

Dari dua hadist di atas, tentu kita dapat melihat bahwa ibarat iman adalah sebuah pohon, maka malu adalah bagian dari beberapa cabang yang ada di pohon iman tersebut.
  1. Malu akan mengantarkan seseorang ke surga
Malu adalah sikap yang disukai oleh Allah Swt. dan nabi-Nya. Sudah pasti jika kita mempunyai sikap tersebut, Rahmat Allah Swt. akan senantiasa tercurah pada kita baik di dunia maupun akhirat. Salah satu Rahmat tersebut adalah berupa surga. Nabi Muhammad SAW. bersabda:
عن أبي هُريرةَ رضي الله , عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيْمَانِ وَالْإِيْمَانُ فِي الْجَنَّةِ , وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ والْجَفَاءُ فِي النَّارِ .
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah Saw., beliau bersabda: “’Malu adalah sebagian dari iman, dan iman ada di dalam surga. Sedangkan tidak sopan (ucapan jorok) itu adalah perangai kasar, dan perangai kasar itu ada di dalam neraka.”[16]

Hadist di atas jelas menegaskan bahwa surga hanya ditempati oleh orang-orang yang beriman, dan seorang yang dikatakan beriman adalah ia yang memiliki rasa malu.
  1. Pada hakikatnya, malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.
Ini tentunya tidaklah berlebihan. Karena memang malu sendiri mempunyai arti menghindari hal-hal yang buruk. Jika memang seperti itu, tentunya malu akan kebaikannya. Selain itu, Nabi Saw bersabda:
وعن عِمْرَانَ بنِ حُصَيْنٍ رضي الله عنهما قال : قال رسول اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ألْحَيَاءُ لَا يَأْتِيْ إِلَّا بِخَيْرٍ . ( متفق عليه) . وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ .
Artinya: “Dari Imran bin Husain ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Perasaan malu selalu mendatangkan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim dikatakan: “Setiap perasaan malu mengandung kebaikan.”[17]

Mushthafa Muhammad ‘Imarah ketika membahas hadist diatas, men-syarakhi-i sabda Nabi Saw. “Perasaan malu selalu mendatangkan kebaikan.”  لأَنَّهُ يحجز صاحبه عن ارتكاب المحارم  / karena sesungguhnya malu itu menghindarkan bagi orang yang punya malu tersebut dari melakukan keharaman. [18]

F.     Implikasi Malu dalam Dunia Pendidikan
Pendidikan secara umum bertujuan untuk memebentuk pribadi-pribadi yang dewasa, yang tidak hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak pula berlaku sekehendak hati.
Sementara itu, tak jauh berbeda dengan tujuab pendidikan secara umum. Pendidikan Islam pun memiliki tujuan yang mulia, yaitu menajdikan tiap-tiap manusia di bumi ini untuk mejadi manusia yang sempurna, yang dalam konsep Pendidikan Islam sering disebut sebagai Insan Kamil. Yaitu manusia yang mampu mengemban tugas-tugasnya baik tugas sebagai ‘Abdullah atau sebagai khlifatu fil ardhi.
Konsep pendidikan Islam menggunakan dua sumber pokok dalam Islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadist sebagai acuan utama. Di dalamnya termuat beberapa konsep dalam pendidikan, diantaranya tentang rasa malu yang telah sedikit di bahas pada sub-bab sebelumnya.
Rasa malu yang diperintahkan Islam tentu mempunyai implikasi dalam dunia pendidikan. Seperti yang telah disebutkan, bahwa malu adalah keengganan yang adalam dalam hati untuk melakukan perbuatan yang tercela bagi dirinya sendiri atau pun orang lain.
Jika dalam pendidikan, subjek dan objek belajar (guru dan murid) tidak mempunyai rasa malu, maka tentunya pendidikan tersebut telah keluar dari koridor tujuan utama pendidikan.
Semisal, dunia pendidikan yang ada di Indonesia tiap tahunnya selalu mempunyai moment pengujian sikap malu, baik itu siswa, guru atau pun pihak-pihak yang ada di dalamnya. Moment itu terjadi tiap akhir semester genap, yaitu moment Ujian Akhir Nasional. Jika kita kembali kepada konsp awal dari rasa malu, maka sudah sepantasnya kita tidak menemukan kecurangan-kecurangan dalam moment tahunan tersebut. Tapi, kenyataannya – hampir tiap tahunnya – kita melihat di beberapa media massa tentang kasus kecurangan-kecurangan dalam UAN. Ini tentunya suatu hal yang sangat menyedihkan, apalagi ketika kita sadar bahwa Indonesia adalah negara yang penduduk terbesarnya beragama Islam.
Jika dalam dunia pendidikan rasa malu sudah menjadi hal yang langka, lalu apakah kita masih bisa berharap bangsa ini akan maju. Alih-alih maju, berjalan di tempat pun nampaknya akan sulit.
Rasa malu terhadap perbuatan buruk pada dasarnya memiliki implikasi yang sangat baik dalam dunia pendidikan. Karena tugas manusia sebagai ‘Abdullah dan khalifah fil Ardhi bukanlah tugas yang mudah. Karena syaitan telah meminta penangguhan dari Allah Swt. untuk menyesatkan manusia-manusia di bumi dengan salah satunya mengajak manusia melalaikan tugas-tugasnya. Oleh karena itu, dibutuhkanlah rasa malu. Di mana rasa malu ini – bisa dikatakan – sebagai pengendali bagi tiap-tiap individu untuk melakukan perbuatan baik atau meninggalkan yang buruk. Baik yang dimaksud menurut Quraish Shihab adalah yang baik menurut pandangan umum suatu masyarakat dan telah mereka kenal luas, dengan catatan selama masih sejalan dengan al-khair (kebajikan), yaitu nilai-nilai Ilahi.[19]

DAFTAR PUSTAKA

Al-Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi. 1999. Riyadhus Shalihin, terj. Achmad Sunarto, jilid 1, cet. IV, Jakarta: Pustaka Amani.
Amir Ala’uddin Ali bin Balban Al-Farisi. 2007. Shahih Ibnu Hibban, trej. Mujahidin, dkk., jilid 2, cet. I, Jakarta: Pustaka Azzam.
Bisri Mustofa. 1375 H. Al-Azwaadu Al-Musthafawiyyah; fii Tarjamah Al-Arba’in An-Nawawi, Kudus: Menara Kudus.
M. Quraish Shihab. 2006. Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, volume 11, cet. V, Jakarta: Lentera Hati.
Muhammad Nashiruddin Albani. 2008. Shahih Al-Jami’ Ash-Shagghir wa Ziyaadatuhu, terj. Abu Muqbil Ahmad Yuswaji, jilid 2, Jakarta, Pustaka Azzam.
Musthafa Muhammad ‘Imarah. 1271 H. Jawaahirul Bukhori,  Surabaya: Al-Hidayah.
Sayyid Ahmad Al-Hasyimi, Syarah Mukhtaarul Ahaadiits, terj. Moch. Anwar, dkk., cet. VII (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2005


[1]Ibid, h. 625
[5] Al-Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, terj. Achmad Sunarto, jilid 1, cet. IV, (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), h. 625
[6] QS. Thaha [20]: 121
[8] Amir Ala’uddin Ali bin Balban Al-Farisi, Shahih Ibnu Hibban, trej. Mujahidin, dkk., jilid 2, cet. I, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), h. 477
[9] Silahkan lihat Arba’in Nawawi hadist ke-20
[10] Bisri Mustofa, Al-Azwaadu Al-Musthafawiyyah; fii Tarjamah Al-Arba’in An-Nawawi, (Kudus: Menara Kudus, 1375 H.), h. 49
[12] Sayyid Ahmad Al-Hasyimi, Syarah Mukhtaarul Ahaadiits, terj. Moch. Anwar, dkk., cet. VII (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2005), h. 429
[13] Al-Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, terj. Achmad Sunarto, jilid 1, cet. IV, (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), h. 624
[14] Ibid,.
[15] Muhammad Nashiruddin Albani, Shahih Al-Jami’ Ash-Shagghir wa Ziyaadatuhu, terj. Abu Muqbil Ahmad Yuswaji, jilid 2, (Jakarta, Pustaka Azzam, 2008), h. 675
[16] Amir Ala’uddin Ali bin Balban Al-Farisi, Shahih Ibnu Hibban, trej. Mujahidin, dkk., jilid 2, cet. I, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), h. 479
[17] Al-Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, terj. Achmad Sunarto, jilid 1, cet. IV, (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), h. 624
[18] Musthafa Muhammad ‘Imarah, Jawaahirul Bukhori,  (Surabaya: Al-Hidayah, 1271 H.), h. 473
[19] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, volume 11, cet. V, (Jakarta: Lentera Hati, 2006), h. 137

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar